Senin, 1 Jun 2026
light_mode
Beranda » Hukum » Lumpur yang Menelan Aspal, Nestapa Warga Taman Raya Batam Akibat Proyek Cut and Fill

Lumpur yang Menelan Aspal, Nestapa Warga Taman Raya Batam Akibat Proyek Cut and Fill

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 7 Jan 2026

InspirasiToday – Selasa pagi di Kelurahan Belian biasanya riuh oleh deru mesin motor orang tua yang mengantar anak sekolah. Namun, di kawasan Taman Raya Tahap III, keriuhan itu berubah menjadi kecemasan.

Jalan penghubung Botania-Taman Raya yang biasanya menjadi urat nadi aktivitas, kini berubah menjadi sungai lumpur yang pekat dan menjebak.

Pembangunan memang sedang menggeliat di sana. Aktivitas cut and fill—pemotongan bukit dan penimbunan lahan—terus berjalan.

Namun, bagi warga yang melintas, proyek tersebut tak lebih dari ancaman yang membayangi keselamatan mereka setiap kali awan mendung menggelayut.

Ketika Jalan Menjadi Jebakan

Pagi itu, Selasa (7/1/2025), hujan turun membasuh bumi Batam. Alih-alih menyegarkan, air hujan justru membawa kiriman “hadiah” pahit dari lahan proyek yang posisinya lebih tinggi dari jalan utama.

Tanah merah yang terkelupas terbawa arus, mengalir deras menjajah badan aspal hingga tak lagi terlihat.

“Aspalnya sudah tidak kelihatan sama sekali, semuanya tertutup lumpur cokelat yang pekat dan lengket,” kata Anwar, seorang warga Botania yang setiap hari menggantungkan perjalanannya di jalur tersebut.

Anwar tidak berlebihan. Lumpur setebal beberapa sentimeter itu mengubah jalanan menjadi arena seluncur yang maut.

Satu per satu pengendara motor kehilangan keseimbangan, ban kendaraan mereka gagal mencengkeram aspal yang tertutup licinnya tanah liat.

Di tengah rintik hujan dan kekacauan lalu lintas, drama kemanusiaan kecil terjadi. Melihat para pengendara berjatuhan, warga sekitar tak tinggal diam.

Dengan pakaian yang mulai basah dan kaki yang terbenam lumpur, mereka turun ke jalan. Bukan untuk berdemo, melainkan untuk membantu para korban yang terjatuh dan meminggirkan motor agar tidak memacetkan arus yang kian padat.

“Sudah sering pengendara motor jatuh saat melewati jalan di sini, karena licin,” ungkap Anwar dengan nada getir.

Baginya, pemandangan ini telah menjadi rutinitas yang menyakitkan untuk disaksikan.

Kehadiran aparat kepolisian yang bersiaga di beberapa titik sedikit memberi rasa aman, namun tak mampu menghapus akar masalah: sebuah proyek yang tampak abai pada dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

Protes yang Bergaung di Ruang Digital

Ketidakberdayaan menghadapi alat berat dan kebijakan proyek membuat warga beralih ke jempol mereka. Melalui grup-grup WhatsApp dan linimasa media sosial, peringatan bahaya disebarkan secara berantai.

Foto-foto ban motor yang terbenam lumpur dan video jalanan yang berubah cokelat menjadi alarm bagi warga Batam lainnya.

Hingga berita ini ditulis, proyek cut and fill tersebut tetap verjalan. Namun, di atas aspal yang tertutup lumpur itu, tersisa pertanyaan besar tentang di mana letak keselamatan warga dalam rancang bangun pembangunan kota.

Bagi Anwar dan ratusan pengendara lainnya, setiap tetes hujan kini bukan lagi berkah, melainkan sinyal untuk bersiap menghadapi “jebakan” lumpur yang mengancam nyawa. (*)

  • Penulis: admin
expand_less