Kamis, 16 Apr 2026
light_mode
Beranda » Batam » Nasib Buruh di Batam: Kenaikan UMK Belum Ditangan, Harga Bahan Pokok Mencekik Leher

Nasib Buruh di Batam: Kenaikan UMK Belum Ditangan, Harga Bahan Pokok Mencekik Leher

  • account_circle Setiawan
  • calendar_month Ming, 4 Jan 2026

InspirasiToday – Keputusan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) yang menetapkan Upah Minimum Kota (UMK) Batam 2026 sebesar Rp5.357.982, seperti ilusi di tengah kerasnya denyut nadi kehidupan kota industri.

UMK 2026, yang baru saja diumumkan dengan kenaikan 7,38 persen, terasa lumer sebelum sempat menyentuh tangan para pekerja. Yang mengganjal justru kenyataan pahit di pasar: harga-harga bahan pokok telah lebih dulu melesat, mencekik leher dan menggerus makna kenaikan upah itu sendiri.

“Kenaikan UMK tahun ini bagai garam di laut. Kelihatan ada, tetapi tak terasa sama sekali di tengah kenaikan harga kebutuhan sehari-hari,” keluh Dewi, pekerja di Kawasan Industri Batamindo, suaranya lirih namun penuh kepedihan.

Dewi adalah satu dari sekian banyak suara yang tenggelam dalam kesenjangan antara kenaikan UMK dan kebutuhan riil yang makin menganga.

Setelah pengumuman UMK, pasar-pasar tradisional di Batam seolah menyambutnya dengan deretan label harga baru yang menjulang. Harga beras, sandaran hidup utama, merangkak naik lebih dari 10 persen, dari sebelumnya Rp13.000 menjadi Rp14.500.

Di rak-rak sayur, timbunan cabai dan bawang seakan menyimpan fenomena kenaikan yang tinggi. Lonjakan juga terjadi pada harga ayam di Pasar Pancur Tanjungpiayu—dari Rp38.000 melambung ke Rp47.000 per ekor, naik sekitar 23 persen.

“Kami justru semakin terhimpit. Padahal bulan puasa dan Lebaran sudah menunggu di depan mata, namun yang datang malah beban yang kian berat,” ucap Reni, warga Pancur Baru.

Fakta-fakta di lapangan berkata lebih keras daripada statistik: kenaikan UMK tahunan selalu tertinggal beberapa langkah di belakang laju kenaikan harga. Celah antara angka upah dan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) tak kunjung menyempit, malah menganga lebar seperti jurang yang mengisap harapan.

UMK Batam 2026 nyaris tak bersentuhan dengan realitas hidup riil kaum buruh yang setiap hari bergulat dengan inflasi.

“Naik sedikit di slip gaji, tapi harga-harga di pasar melonjak tak terkendali. Rasanya seperti lari di tempat, atau malah mundur,” sindir Robi, warga Mangsang. (*)

  • Penulis: Setiawan
expand_less