Jumat, 22 Mei 2026
light_mode
Beranda » Nasional » Ketimpangan Masih Tinggi, Jumlah Mahasiswa Dunia Naik Dua Kali Lipat dalam 20 Tahun

Ketimpangan Masih Tinggi, Jumlah Mahasiswa Dunia Naik Dua Kali Lipat dalam 20 Tahun

  • account_circle Suradi
  • calendar_month Sen, 18 Mei 2026

 

InspirasiToday – UNESCO mengungkap jumlah mahasiswa yang menempuh  pendidikan tinggi di seluruh dunia meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade terakhir.

Temuan tersebut tertuang dalam laporan perdana bertajuk Higher  Education Global Trends Report yang dipublikasikan pada Selasa (12/5).

Berdasarkan data dari 146 negara, jumlah pendaftaran pendidikan tinggi global naik dari sekitar 100 juta mahasiswa pada tahun 2000 menjadi 269 juta pada 2024.

Ketimpangan  Pendidikan Global Masih Tajam
Meski mengalami pertumbuhan signifikan, UNESCO menilai akses pendidikan tinggi di berbagai kawasan dunia masih sangat timpang.

Di kawasan Eropa Barat dan Amerika Utara, sekitar 80 persen anak muda tercatat mengenyam pendidikan tinggi.

Sebaliknya, di kawasan Afrika sub-Sahara, angka partisipasi pendidikan tinggi hanya mencapai 9 persen.

Laporan tersebut juga menunjukkan mobilitas pendidikan internasional masih rendah. Hanya sekitar 3 persen mahasiswa di dunia yang menjalani pendidikan tinggi di luar negeri.

Perempuan Masih Minim di Posisi Akademik Tinggi
UNESCO turut menyoroti ketimpangan gender dalam dunia akademik global.

Perempuan disebut masih kurang terwakili pada jenjang doktoral dan hanya menduduki sekitar seperempat posisi kepemimpinan di institusi akademik.

Kondisi ini menunjukkan tantangan kesetaraan gender dalam pendidikan tinggi masih belum sepenuhnya teratasi, meski jumlah partisipasi pendidikan global terus meningkat.Sumber Daya Pendidikan

Pengungsi Hadapi Hambatan Akses Pendidikan
Selain persoalan ketimpangan wilayah dan gender, UNESCO juga menyoroti kesulitan yang dihadapi para pengungsi dalam mengakses pendidikan tinggi.

Ketiadaan dokumen yang lengkap dan terverifikasi untuk membuktikan kualifikasi akademik menjadi hambatan utama, terutama di negara-negara kawasan Global South.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, UNESCO memperkenalkan program Qualifications Passport atau Paspor Kualifikasi.

Program ini dirancang untuk membantu pengakuan kualifikasi akademik, profesional, dan vokasional bagi para pengungsi maupun individu yang terpaksa mengungsi dari negaranya. (*)

  • Penulis: Suradi
expand_less