Senin, 1 Jun 2026
light_mode
Beranda » Kepri » Dialog Sedimentasi Pasir Laut di Bintan Ricuh, Pemprov Kepri Tutup Aspirasi Nelayan

Dialog Sedimentasi Pasir Laut di Bintan Ricuh, Pemprov Kepri Tutup Aspirasi Nelayan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 25 Mei 2026

 

Meta Description:
dalam forum bersama Pemprov Kepri.

InspirasiToday — Dialog terkait rencana kegiatan sedimentasi pasir laut di Desa Numbing, Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, berakhir ricuh pada Selasa (19/5/2026).

Forum yang digelar di Balai Serbaguna Dusun I itu awalnya ditujukan sebagai ruang komunikasi antara masyarakat pesisir dengan jajaran Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Namun suasana berubah tegang setelah sejumlah nelayan merasa tidak diberikan kesempatan menyampaikan aspirasi terkait dampak sedimentasi pasir laut terhadap kehidupan mereka.

Nelayan Mengaku Tak Diberi Kesempatan Bicara

Ketua Aliansi Nelayan Pesisir Bintan, Rudi Herdiawan, mengatakan sejak awal jalannya audiensi, nelayan merasa tersisihkan dalam forum tersebut.

Menurutnya, kesempatan berbicara justru lebih banyak diberikan kepada masyarakat pendatang dibanding warga nelayan yang terdampak langsung.

“Dari awal kunjungan, yang diberikan kesempatan berbicara justru masyarakat pendatang. Sementara kami nelayan saat ingin menyampaikan pendapat malah ditahan,” tegas Rudi.

Kondisi tersebut memicu ketegangan di lokasi. Nelayan yang merasa diabaikan terlibat adu argumen dengan sejumlah peserta lain yang dinilai bukan pihak terdampak langsung, namun justru diberikan ruang dalam forum.

“Di situ terjadi keributan. Nelayan tidak terima karena yang didengar bukan suara kami. Padahal kami yang akan terdampak langsung,” kata Rudi.

Ia juga menyoroti dugaan adanya ketimpangan dalam proses penyerapan aspirasi, di mana kelompok masyarakat yang bukan nelayan justru lebih dominan dalam forum tersebut.

“Yang didengar bukan masyarakat yang hidup dari laut. Ini yang membuat kami merasa tidak dihargai,” tambahnya.

Audiensi tersebut diketahui hanya berlangsung singkat, sekitar pukul 09.30 hingga 10.30 WIB. Dalam waktu yang terbatas itu, nelayan menilai forum belum cukup untuk membahas persoalan besar yang menyangkut ruang hidup mereka.

Kekecewaan nelayan semakin dalam karena tidak adanya keputusan konkret dari pertemuan tersebut. Kehadiran pejabat pemerintah, termasuk dari tingkat provinsi, dinilai belum mampu menjawab tuntutan masyarakat pesisir.

Peristiwa ini menjadi potret nyata memanasnya penolakan terhadap rencana sedimentasi laut di wilayah Bintan. Bagi nelayan, persoalan ini bukan sekadar kebijakan, melainkan menyangkut masa depan penghidupan mereka di laut.

“Kami hanya ingin didengar. Kalau suara kami terus diabaikan, kami akan terus bergerak,” tutup Rudi.

  • Penulis: admin
expand_less