Jawaban Atasi Bullying hingga Kekeringan Batin di Sekolah, Kemenag Luncurkan Kurikulum Berbasis Cinta
- account_circle Suradi
- calendar_month Sab, 25 Apr 2026

InspirasiToday – Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan program Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai upaya menjawab berbagai persoalan dalam dunia pendidikan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut KBC hadir untuk mengatasi fenomena “kekeringan batin”, penurunan akhlak, hingga maraknya bullying dan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Menurut Nasaruddin, KBC merupakan paradigma baru yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
“Kita tidak ingin melahirkan anak didik yang kering batinnya, hanya tajam pikirannya. Yang kita harapkan adalah pikirannya tajam, tapi hatinya juga subur,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Kemenag juga mendorong guru, penyuluh, dan ASN menjadi agen utama dalam menyebarkan nilai cinta, empati, dan kepedulian sosial di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
Dorong Pendidikan yang Produktif dan Bermakna
Kurikulum ini tidak hanya menargetkan produktivitas, tetapi juga keberkahan dalam proses pendidikan.
Menag menegaskan bahwa tidak semua produktivitas membawa keberkahan, dan sebaliknya, keberkahan tidak akan hadir tanpa produktivitas yang baik.
Program Belajar Mandiri KBC dirancang untuk meningkatkan kompetensi pedagogik serta kepribadian guru dan penyuluh.
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan membantu peserta memahami dan menginternalisasi nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran.
Targetkan Ekosistem Pendidikan yang Harmonis
KBC diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, harmonis, dan berkeadaban.
Peserta didik didorong untuk tumbuh dengan karakter toleran, saling menghargai, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Program ini diikuti oleh lebih dari 305 ribu peserta secara daring, menunjukkan tingginya antusiasme tenaga pendidik dalam meningkatkan kualitas diri di era digital.
Pelaksanaan secara online juga menjadi strategi untuk memastikan pemerataan akses pelatihan hingga ke seluruh pelosok Indonesia. (*)
- Penulis: Suradi

