Ketua RT Protes Krisis Air di Tanjungpiayu, Anggota DPRD Batam Cuek
- account_circle admin
- calendar_month Sen, 4 Mei 2026

InspirasiToday – Warga Tanjungpiayu, Kota Batam mengeluhkan kondisi layanan air bersih yang semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Ketua RT 04 Perumahan Laguna 2 Tanjungpiayu, Putra, mengaku sudah menyampaikan keluhan tersebut ke Air Batam Hilir.
Menurutnya, terdapat tiga poin permasalahan krisis air bersih di kawasan perumahan tersebut. Mulai dari aliran air yang sering mati seharian tanpa pemberitahuan sebelumnya, tekanan air yang sangat kecil dan kualitas air yang keruh serta tidak layak digunakan.
“Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat di Perumahan Pesona Bukit Laguna yang terdiri hamper 1.300 kepala keluarga (KK),” ujarnya.
Pasokan air semakin menyusut akhir-akhir ini, bahkan hanya mengalir pada waktu tidak wajar, yakni tengah malam hingga dini hari. Sejumlah warga mengaku air baru mengalir sekitar pukul 01.00 dini hari dan hanya bertahan beberapa jam.
Kondisi ini memaksa warga untuk terbangun di tengah malam demi menampung air ke dalam ember, tandon, maupun jeriken.
Parahnya, keluhan warga itu tak mendapat respon dari BP Batam, Air Batam Hilir, maupun anggota DPRD Batam yang tinggal di Tanjungpiayu. Mereka terkesan cuek, dan baru sibuk mendekati warga saat cari suara menjelang Pemilu.

Tagihan Naik, Kualitas Justru Turun
Ironisnya lagi, di tengah pasokan air yang tidak menentu, warga justru dihadapkan pada kenaikan tagihan yang signifikan.
Beberapa pelanggan bahkan mengaku tagihan meningkat hingga lebih dari dua kali lipat, meski kualitas dan kuantitas air menurun drastis.
“Biasanya bayar kurang dari Rp120 ribu, bulan ini tagihan melonjak hingga Rp245 ribu,” ujar Adit, warga Perumahan Laguna Tahap 2 Tanjungpiayu, Senin (4/5/2026).
Keluhan serupa juga datang dari warga di Perumahan Bukit Indah Piayu yang mengalami kondisi serupa.
Warga Terpaksa Begadang dan Kehilangan Waktu Istirahat
Situasi ini berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat. Banyak warga harus begadang atau bangun dini hari hanya untuk memastikan kebutuhan air tercukupi.
Kondisi tersebut dinilai memberatkan, terutama bagi keluarga dengan anak-anak, lansia, dan pekerja dengan aktivitas padat.
Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan, namun belum mendapat respons yang memadai. ***
- Penulis: admin

