Rabu, 10 Jun 2026
light_mode
Beranda » Lifestyle » Anyaman Ketupat, Menenun Tradisi Budaya di Pulau Penyengat

Anyaman Ketupat, Menenun Tradisi Budaya di Pulau Penyengat

  • account_circle Suradi
  • calendar_month Sel, 3 Mar 2026

 

InspirasiToday – Di balik gema salawat dan ketenangan spiritual di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), tersimpan sebuah tradisi unik yang menghidupkan suasana Ramadan dan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.

Tradisi itu disebut sebuah aktivitas kolektif menganyam ketupat yang menjadi simbol perekat sosial bagi masyarakat di pusat peradaban Melayu ini.

Bagi warga Penyengat, menganyam ketupat bukan sekadar persiapan dapur, melainkan ritual budaya yang mewariskan nilai-nilai luhur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Filosofi di Balik Jemari yang Menari
Menganyam ketupat berlangsung dalam suasana yang tercipta saat warga berkumpul. Sambil jemari lincah melipat janur (daun kelapa muda), ruang-ruang publik seperti pelataran masjid dan balai pertemuan dipenuhi dengan senda gurau, cerita rakyat, dan tawa yang bersahutan.

“Tradisi budaya ini masih terus kami jaga di tengah masyarakat. Ini adalah warisan yang menyatukan kami semua,” ungkap Rajani, salah seorang warga setempat, Selasa (3/3/2026).

Anyaman ketupat yang saling silang memiliki makna simbolis yang mendalam. Jalinan janur yang rapat mencerminkan keterikatan sosial yang sulit dipisahkan.

Menganyam pola yang rumit melalui anyaman ini juga mengajarkan generasi muda untuk telaten dalam mencapai tujuan.

Solidaritas Sosial di Bulan Suci

Ramadan 2026 ini menjadi panggung nyata bagi implementasi empati. Hasil anyaman ketupat sering kali tidak disimpan untuk konsumsi pribadi saja.

Banyak keluarga di Pulau Penyengat yang sengaja menganyam lebih banyak untuk dibagikan kepada tetangga atau mereka yang membutuhkan.

Semangat berbagi ini merupakan perpanjangan dari nilai-nilai Ramadan yang menekankan kepedulian terhadap sesama, menjadikan ketupat sebagai media hantaran kasih sayang.

Tradisi Melayu di Era Digital

Meskipun zaman telah berubah dan arus modernisasi semakin kencang, kearifan lokal Pulau Penyengat tetap menemukan celah untuk bersinar. Kini, momen menganyam ketupat sering kali didokumentasikan dan dibagikan melalui media sosial oleh para pemuda setempat.

Dokumentasi digital ini secara tidak langsung menjadi kampanye budaya yang memperkenalkan identitas Melayu Kepri ke mata dunia. Tradisi menganyam ketupat kini bukan hanya milik warga pulau kecil, melainkan menjadi kebanggaan nasional yang tetap relevan di mata generasi Z dan milenial. (*)

  • Penulis: Suradi
expand_less