Kamis, 16 Apr 2026
light_mode
Beranda » Nasional » Akibat Agresi AS ke Iran Ekspor 50.000 Sarung dari Jawa Tengah Tertunda

Akibat Agresi AS ke Iran Ekspor 50.000 Sarung dari Jawa Tengah Tertunda

  • account_circle Suradi
  • calendar_month Sel, 10 Mar 2026

 

InspirasiToday – Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyoroti dampak konflik geopolitik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel terhadap pelaku usaha kecil menengah di daerah. Dampak tersebut salah satunya dirasakan oleh perajin sarung Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Kota Tegal, yang mengalami penundaan ekspor hingga 50.000 potong sarung ke pasar Afrika.

Fikri menjelaskan, peristiwa ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik global dapat berdampak langsung terhadap sektor ekonomi lokal, termasuk industri tradisional yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Banyak yang mengira konflik Iran–Israel tidak berdampak ke daerah seperti Tegal. Padahal kenyataannya ada. Pengiriman sarung dari pengusaha Tegal ke Afrika tertunda hingga mencapai 50.000 potong,” ujar Fikri, mengutip Parlementaria, Jumat (6/3/2026).

Menurut legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX itu, tertundanya pengiriman dua kontainer sarung tidak hanya berdampak pada pengusaha, tetapi juga menimbulkan efek berantai bagi pekerja dan pelaku usaha lain dalam rantai produksi. Mulai dari buruh tenun hingga pemasok bahan baku lokal berpotensi terdampak akibat terganggunya ekspor tersebut.

“Pengusaha sarung tentu memiliki karyawan yang berasal dari masyarakat sekitar. Bahan bakunya juga disuplai oleh pelaku usaha lokal. Ketika ekspor terganggu, dampaknya bisa meluas,” jelas politisi dari Partai Keadilan Sejahtera tersebut.

Sebagai langkah antisipatif, Fikri mendorong pelaku UMKM untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor agar tidak terlalu bergantung pada satu kawasan yang rentan terhadap gejolak geopolitik.

Ia menyarankan pelaku usaha sarung dari Tegal memperluas pasar ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. Selain itu, peluang pasar juga dinilai terbuka di kawasan lain seperti Turki maupun wilayah Asia Tengah.

Menurutnya, memiliki beberapa tujuan pasar ekspor menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi daerah ketika terjadi gangguan pada salah satu kawasan perdagangan.

“Dengan memiliki beberapa tujuan pasar ekspor, pelaku usaha akan lebih siap menghadapi situasi global yang tidak menentu,” katanya.

Selain itu, Fikri juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dan media sosial sebagai sarana memperluas akses pasar internasional. Melalui platform digital, pelaku UMKM dinilai dapat menjangkau pasar baru tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran yang besar.

Ia berharap langkah adaptif tersebut dapat membantu industri sarung tradisional tetap bertahan sekaligus memperkuat daya saing produk lokal Indonesia di pasar global.(*)

  • Penulis: Suradi
expand_less